Oleh: Fachri Khoerudin

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Khutbah Pertama

Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat jum’at  rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan yang apabila kita menghitung nikmat tersebut, niscaya nikmat tersebut tidak akan pernah bisa kita hitung. Shalwat serta salam kita curah limpahkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah mengemban risalah, menyebar dakwah dan mengajak manusia dari berbagai macam kesesatan menuju jalan yang dipenuhi oleh hidayah.

Dan tak lupa, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada para jama’ah sekalian agar meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan senantiasa berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Karena dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya itulah kita akan semakin dekat dengan surga-Nya dan semakin jauh dari neraka-Nya.

Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat jum’at  rahimakumullah,

Hidup bagi seorang muslim, sejak ia akil baligh sampai malaikat maut menjemputnya, adalah ujian. Ujian yang tidak hanya sekedar untuk dilalui, tetapi juga akan dinilai oleh Allah Azza Wa Jalla. Dengan ujian itu, secara nyata Allah akan mendapati siapa diantara hamba-hamba-Nya yang paling baik amalnya.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya: “(Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya, dan Dia maha gagah dan maha pengampun  (QS. Al-Mulk : 2).

Imam ar-Razi dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib beliau menafsirkan kata ibtila dengan mengatakan bahwa yang maksud dari kalimat tersebut adalah التَّجْرِبَةُ وَالِامْتِحَانُ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّهُ هَلْ يُطِيعُ أَوْ يَعْصِي (cobaan dan ujian sehingga Allah mengetahui apakah dia taat atau maksiat karena ibtila tersebut). Apabila melihat dari pengertian tersebut, maka posisi seseorang ketika menghadapi ujian itu ada dua: ada yang lulus dengan cara dia ta’at atau justru gagal menghadapi ujian tersebut dengan cara bermaksiat terhadap Allah SWT. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah SWT dari kegagalan dalam menyikapi ujian tersebut.

Karena dalam setiap aktifitasnya manusia akan selalu menghadapi ujian kapanpun dan dimanapun, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui sebenarnya apa saja jenis-jenis dari ujian yang diberikan Allah kepada kita. Sejatinya, ujian yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang muslim bisa berupa dua hal: ujian yang berbentuk musibah dan ujian kenikmatan. Sering kali yang pertama disebut oleh manusia sebagai ujian yang buruk dan yang kedua disebut sebagai ujian yang baik. Namun, pada hakikatnya keduanya merupakan ujian dari Allah. Keduanya memiliki potensi yang sama. Jika lulus menghadapinya akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat jum’at  rahimakumullah,

Karena ujian itu harus kita lalui, maka kita akan bertanya-tanya, sebenarnya, bagaimana cara kita melalui ujian-ujian tersebut? Karena ujian itu terbagi menjadi dua, maka jawabannyapun ada dua. Yang pertama, apabila ujiannya adalah berbentuk musibah yang menghasilkan kesusahan, maka cara untuk melaluinya adalah dengan cara bersabar. Sedangkan yang kedua, apabila ujiannya berbentuk kenikmatan, maka cara untuk melalui musibah tersebut adalah dengan cara bersyukur kepada Allah SWT.

Apabila kita melihat sejarah Nabi, maka kita akan mendapati bagaimana para sahabatnya melalui kedua macam ujian ini dengan baik meskipun mereka semua melaluinya dengan susah payah. Tetapi diantara kedua macam ujian tersebut, ternyata ujian kenikmatan lebih sulit untuk dilalui daripada ujian musibah atau kesengsaraan.  Mungkin, sebuah riwayat yang berasal dari Abdurrahman bin ‘Auf bisa menjelaskan hal ini. Pada saat itu beliau mengatakan:

ابْتُلِينَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا، ثُمَّ ابْتُلِينَا بِالسَّرَّاءِ بَعْدَهُ فَلَمْ نَصْبِرْ

Artinya “Kami di uji bersama rasulullah dengan kesusahan, tetapi kami bisa bersabar. Kemudian kami di uji dengan kesenangan dan kenikmatan setelah itu, maka kami tidak bisa bersabar.”

Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat jum’at  rahimakumullah,

Hadis yang berasal dari Abdurrahman bin Auf tersebut menjelaskan dan menunjukan kepada kita semua bahwa ujian yang paling berat itu ternyata  ujian berupa kenikmatan. Alasannya, karena selama ini kita menganggap bahwa ujian kenikmatan itu bukan ujian. Selama ini persepsi kita mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ujian itu adalah hanya musibah saja. Ternyata hal itu keliru dan kurang tepat. Apabila kita tidak menyadari bahwa ujian kenikmatan itu sebenarnya adalah ujian, maka kita tidak akan pernah bisa melaluinya dengan baik.

Salah satu diantara sekian banyak ujian kenikmatan yang sering dilupakan adalah kesehatan dan waktu luang. Hal ini sebagaimana apa yang disabdakan oleh nabi Muhammad SAW dalam kitab Shahih al-Bukhari

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ “

Artinya: “Dari Ibnu Abbas Radiyyallahu Anhu beliau berkata; nabi SAW bersabda “ada dua nikmat yang sering disia-siakan oleh kebanyakan dari manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang”

Hadis ini menekankan kita untuk selalu ingat, bahwa nikmat itu termasuk kepada ujian, dan diantara nikmat yang sering dilupakan oleh manusia bahwa itu bukanlah termasuk kedalam ujian adalah nikmat kesehatan dan waktu luang. Oleh karena itu, perhatian kita terhadap ujian kenikmatan harus lebih ditekankan, terlebih ketika membicarakan terhadap kedua hal ini.

Khutbah 2

الحمد لله امرنا باتقوا ونهان عن اتباع الهوى. اشهد ان لاله الا الله و اشهد ان محمد عبده  ورسوله.

Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat jum’at  rahimakumullah,

Dalam khutbah pertama telah dijelaskan mengenai pentingnya kita menyadari bahwa ujian yang diberikan oleh Allah SWT bukan hanya berupa musibah yang identik dengan kesengsaraan, tetapi segala kenikmatan yang kita rasakan itu juga termasuk ke dalam ujian Allah SWT.

Oleh karena itu, pada hari yang penuh berkah ini marilah kita berdoa untuk kebaikan kita semua pada umumnya, dan khatib pada khususnya. Semoga Allah selalu melindungi kita dari kehilafan yang sering datang. Semoga Allah melindungi kita dari ketergelinciran ingatan, sehingga kita lupa bahwasannya kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah ujian bagi kita yang harus disyukuri; baik dengan hati, lisan ataupun perbuatan.

Demikianlah apa yang khatib bisa sampaikan, semoga apa yang disampakan bisa bermanfaat pada khatib sendiri ataupun untuk yang lainnya. ibadallah….

إن اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُما كَمَا رَبَّيانَا صِغَارًا

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفرلنا و ترحمنا لنكوننا من الخاسرين

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.