Tasya Putri Nurhayat/Peserta PKU Angkatan 16

Terdapat kerancuan kesejahteraan dalam pandangan Barat, karena hanya dilandaskan pada ideologi materialism dan duniawi saja tanpa mencantumkan aspek keagamaan.[1] Dalam pandangan Barat kesejahteraan akan tercapai apabila kebutuhan ekonomi terpenuhi, terhindar dari kemiskinan, terjadinya persamaan dan stabilitas social serta terwujudnya otonomi.[2] Namun mengapa ketika suatu negara berideologi Barat menjadi salah satu negara terkaya di Dunia, memiliki angka bunuh diri yang tinggi? Salahsatunya adalah  Amerika Serikat yang merupakan satu diantara negara terkaya di Dunia yang memiliki kekayaan negara 18,62 Triliun dollar dengan penghasilan perorangan 55,638 dollar,[3] memiliki angka bunuh diri yang cukup tinggi, yaitu 21 orang setiap 100.000 jiwa.[4] Jika dibandingkan dengan Brunei Darussalam suatu negara Islam yang memiliki kekayaan hanya 11,40 Triliun dollar dengan penghasilan perorangan 25,594 dollar,[5] memiliki angka bunuh diri yang lebih rendah, yaitu 6 orang setiap 100.000 jiwa.[6]

Hal ini mengindikasikan terdapat kekeliruan dalam pemaknaan kesejahteraan dalam pandangan Barat dengan ideologi materialismenya, karena seharusnya jika dilihat dari makna sejahtera secara Bahasa, sejahtera adalah walfare yang berarti kesehatan, kebahagiaan dan kenyamanan dari suatu grup atau individu..[7] Sedangkan Amerika yang  pasti sangat mampu memenuhi kebutuhan ekonominya sehingga terhindar dari kemiskinan dan layak dikatakan sejahtera dalam pandangan mereka, tidak mampu menciptakan kenyamanan dan kebahagiaan hidup. Maka dimana letak kesalahan kesejahteraan dalam worldview Barat itu?

Baca Juga : Kedudukan Imajinasi dalam Epistimologi Islam – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Letak kesalahan kesejahteraan dalam worldview Barat adalah tolak ukur dari kesejahteraan itu sendiri, yaitu hanya sebatas keduniaan dan materi saja, sehingga tidak menciptakan kedamaian dan kenyamanan hidup yang sebenarnya merupakan masalah Barat sejak zaman Yunani yang tetap berdasarkan kepada kebendaan atau materi dan duniawi saja.[8] Hal ini sejalan dengan pernyataan Umer Chapra  bahwa jika hanya kesejahteraan materi saja yang dikejar tanpa memperhatikan aspek moralitas dan kultural, seperti yang dilakukan Barat, maka akan meningkatkan fenomena-fenomena anomaly, seperti frustasi, kriminalitas, kecanduan alcohol, pereslingkuhan, perceraian, gangguan mental dan bunuh diri, yang mana semuanya mengindikasikan kurangnya kebahagiaan batin.[9]

Apabila melihat permasalahan kesejahteraan Barat diatas, dapat disimpulkan bahwa Islamlah sebenar-benarnya tolak ukur dan sumber kesejahteraan yang hakiki. Karena faktanya  hanya Islam yang memperhatikan aspek materi dan immateri atau spiritual dalam kehidupan, sehingga kehidupan manusia dapat berjalan beriringan dan seimbang sampai dapat tercipta hidup yang harmonis dan Bahagia, sedangkan Barat hanya berlandaskan pada materi sehingga tidak mencapai kebahagiaan.[10] Hal ini dapat dibuktikan oleh Brunei Darussalam yang tidak sebanding dengan Amerika dalam kekayaan dan materi, namun memiliki kebagaiaan dan kenyamanan yang lebih unggul darinya, begitulah  keistimewaan dalam Islam.

Adapun keistimewaan tersebut adalah syariah yang dimiliki Islam, sebagai tuntunan dan jalan hidup manusia di dunia guna mencapai kesejahteraan atau maslahah,[11] dengan beberapa karakteristik yaitu: Pertama, dalam produk hukum syariah, kesejahteraan tidak hanya terbatas pada kesejahteraan dunia saja melainkan kepada kesejahteraan agama juga. Hal ini mengindikasikan bahwa apabila kepentingan manusia bertentangan dengan agama, maka yang tertera dalam agama diutamakan, hal ini karena Allah SWT menetapkan semua peraturan duniawi yang ada pada al-Qur’an atau agama untuk kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat.[12]

Baca Juga : Problematika di Era Post Modernisme – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Kedua, maslahah atau kesejahteraan yang terkandung dalam produk hukum syariah tidak sekedar mengandung unsur fisik saja, melainkan juga memperhatikan unsur metafisik. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dengan syariatnya demi mencapai kesejahteraan tidak hanya berfokus pada hal fisik saja, melainkan juga metafisik. Dan yang ketiga adalah tolak ukur penentuan maslahah tidak terbatas pada kehidupan dunia saja, melainkan juga kehidupan di akhirat.[13]

Pengembalian tolak ukur kesejahteraan kepada Islam adalah tindakan yang paling tepat dan hal ini sejalan dengan pemikiran Syed Naquib Al-Attas yang menjelaskan bahwa keterikatan antara aspek dunia dan akhirat yang dimiliki Islam adalah sebuah keadilan yang menjadi sumber puncak kesejahteraan manusia sehingga kehidupan menjadi harmonis.[14] Maka Islam dengan syariatnya dapat mencapai kesejahteraan yang hakiki, karena terdapat keterikatan antara aspek dunia dan akhirat sehingga menciptakan harmonis dan sebagai jawaban dari problema Barat mengenai kesejahteraannya yang materialistic tanpa mencapai kebahagiaan.

[1] Satria Hibatul Azizy, Mendudukan Kembali Makna Kesejahteraan Dalam Islam (Siman: CIOS, 2015), hlm.3

[2] Robert E Godin, The Real World Of Welfare Capitalism (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), hlm. 22

[3] World Population Review, Riches Countries in The World 2022, diakses dari Richest Countries in the World 2022 (worldpopulationreview.com) pada 13 Juni 2022, pada 04:24 WIB.

[4] World Healtg Organization, Age-Standardized Suicide Rates (Per 100 000 Population), diakses dari WHO | World Health Organization pada 13 Juni 2022, pada 04: 27 WIB

[5] World Population Review, Riches Countries in The World 2022, diakses dari Richest Countries in the World 2022 (worldpopulationreview.com) pada 13 Juni 2022, pada 05: 21 WIB

[6] World Healtg Organization, Age-Standardized Suicide Rates (Per 100 000 Population), diakses dari WHO | World Health Organization pada 13 Juni 2022, pada 05: 22 WIB

[7] As Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary Of Current English (Oxford: Oxford University Press, 1995), hlm. 1352

[8] Syed Muhammaad Naquib Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), hlm. 19

[9] M Umer Charpa, The Objectives Of Islamic Order (Leicester: The Islamic Fondation, 1979), hlm. 10-11

[10] Ibid, hlm. 4

[11] Satria Hibatul Azizy, Mendudukan Kembali Makna Kesejahteraan Dalam Islam, hlm. 19

[12] Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, Dhawabith Al-Maslahah Fi Asy-Syariah Al-Islamiyyah (Damaskus: Muassasah Ar-Risalah, 1973), hlm. 23

[13] Abu Ishaq As-Syatibhi, Al-Muwafiqat Fi Ushul As-Syariah, jilid. 2 (Bairut: Darul Ma’rifah, 1986), hlm. 6

[14] Syed Muhammaad Naquib Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, hlm. 24-25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.