Oleh: Daru Nurdianna/Peserta PKU Angkatan 12

pku.unida.gontor.ac.id-Dewasa ini, terkhusus pada generasi milenial, sering kita temui sebuah fenomena dalam kehidupan kita saat berkumpul dengan teman atau keluarga, yakni masing-masing sibuk dengan telepon genggamnya dan kurang peduli momen berkumpul tersebut. “Yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi jauh”, mungkin itu sebuah ungkapan yang pas untuk menggambarkannya. Nah, fenomena tersebut ternyata telah memiliki sebutan dan sebutan itu resmi masuk ke dalam tata bahasa, yakni disebut fenomena “Phubbing”.

 

Munculnya Istilah “Phubbing

Bagaimana istilah itu muncul ? definisi atau istilah fenomena ini mulai digagas serius sejak tahun 2012 oleh agensi periklanan yang bernama McCann (asalnya dari mana), yang ingin melawan kebiasaan yang dinilai buruk ini, yang sudah menjamur di kalangan masyarakat modern. Agensi ini mengajak leksikografer, penulis, dan penyair untuk membuat sebuah neologisme untuk mendiskrisikan kebiasaan masyarakat yang suka bermain handphone dari pada bercakap langsung ketika berkumpul tersebut. Dari situlah, pencarian identitas brand berupa leksikal untuk fenomena tersebut mulai diperbincangkan mendalam.

Pada akhirnya, kata “Phubbing” terpilih, yang merupakan gabungan dari dua kata “Phone” dan “Snubbing”. Kemudian, agensi McCann membuat kampanye perlawanan dengan tajuk “Stop Phubbing”. Dari situlah istilah ini muncul di media seluruh dunia dan menjadi populer atau viral. Kemudian istilah itu dimasukkan ke dalam kamus Macquarie Australia. Sekarang, istilah Phubbing sudah ada di kamus Oxford Dictionary. Phubbing diartikan sebagai “the practice of ignoring one’s companion or companions in order to pay attention to one’s phone or other mobile device”, dan dikatakan juga sebagai penyakit yang menaikkan minat berlebih dalam menggunakan telephone serta internet, “phubbing is just one symptom of our increasing reliance on mobile phone and internet”.

Baca juga : Pendidikan Akhlak Mewujudkan Generasi Teladan

Efek Phubbing

Kebiasaan Phubbing terkenal tidak hanya dari ranah media iklan saja, namun juga merambah kepada penelitian-penelitian di perguruan tinggi yang menemukan bahwa kebiasaan ini memberikan dampak buruk pada kehidupan sosial. Contoh masalah sosial, misalnya media CNN Indonesia pernah menyampaikan penelitian yang dikutip dari Dailymail, yakni dari Dr. James Robert dan Dr. Meredith David dari Baylor University di Texas. Dalam penelitiannya, Phubbing yang terjadi dewasa ini menjadi fenomena yang cukup memprihatinkan. Hal ini bisa demikian, karena terjadi pada saat-saat penting kebersamaan terjadi. Biasanya dilakukan oleh hubungan asmara atau percintaan pasangan, kehangatan kerabat, kebersamaan keluarga atau keasikan persahabat yang sedang berkumpul. Dapat dilihat dari hasil penelitiannya yang menunjukkan hasil 70% tidak bisa lepas dari telephone genggam dan berphubbing ria, dari 143 individu. Sedangkan penelitiannya yang lain  yang berfokus pada korban Phubbing, 46% dari 450 responden menjadi korban Phubbing pasangannya sendiri.

Phubbing yang diartikan sebabagi perilaku merendahkan (snubbing) seseorang yang sedang berbicara di depan Anda dengan melihat telephone, mungkin bukan sebuah hal yang ada di kamus sehari-hari, namun pada kenyataanya fenomena ini sekarang terjadi setiap hari. Sangat mudah menemui fenomena Phubbing ini di rumah, tempat kerja, sekolah dan lain-lain. Sebuah fenomena yang dinilai agak menjengkelkan kiranya dan menganggu, namun itu menjadi ciri khas kehidupan modern tapaknya. Jika diteliti dan difahami seksama, hal tersebut dapat merusak hubungan kekerabatan.

Seorang Psikolog dari Stanford and Yale University, dikutip dari majalah Time,  Emma Sepala mengatakan, “Ironically, Phubbing is meant to connect you, presumably, with someone through social media or texting, but it actually can severely disrupt your present-moment, in-person relationshop”, yang arti bebasnya, Emma Sepala mengatakan bahwa ironis memag, Phubbing menghubungkan dengan orang lain yang jauh dengan sosial media atau teks, namun ia merusak sebuah momen penting yang sedang terjadi dari sebuah hubungan di dunia nyata. Emma Sepala juga menegaskan bahwa Phubbing tidak baik untuk semua orang,

“You might miss critical impacts of human moment that really make up what a human life is, it’s really scary that we’re replacing that with looking down at screen.”

“Anda mungkin akan kehilagan kesan berharga dan penting dari momen kemanusiaan yang benar-benar membentuk kehidupan manusia, itu sangat menakutkan jika ternyata kita menggantinya dengan menatap kebawah melihat layar (telephone genggam)”

Hilangnya Kedisilipan dan Adab

Fenomena Phubbing ini, jika dilihat dari kaca mata Islam, memiliki beberapa masalah. Masalah pertama, adalah ia menjadi sikap yang tidak sopan atau tidak beradab terhadap orang lain kepada orang yang berbicara dengan kita. Dalam Islam, kita diajarkan untuk mempunyai adab dalam  mendengarkan seperti; diam dan mendengarkan; tidak memotong pembicaraan; dan  menghadapkan wajah dan tidak memalingkan wajah kepada orang lawan berbicara (selain berbicara dengan lawan jenis bukan mahrom). Kedua, menyalahi sikap adil. Ajaran Islam, memiliki konsep adil, yang berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ketika ada orang berbicara di depan kita, maka seharusnya meninggalkan sosial media terlebih dahulu karena hal itu bisa dilakukan di waktu lain. Hikmaknya adalah, untuk memberikan momen langsung dalam kehidupan berkomunikasi itu tidak merusak hubungan dengan sikap adab dan adil.

Masalah Phubbing tersebut, menurut hemat penulis, masuk kepada salah satu masalah yang di sampakan oleh Prof. Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang Ulama Pemikir Kontemporer, dan pendiri ISTAC-IIUM Malaysia. Syed al-Attas  menyampaikan bahwa akar masalah  yang dihadapi manusia sekarang, terkhusus umat Islam ada 3 hal. Pertama, adalah ilmu yang rusak atau tidak netral. Kedua, hilangnya adab (loss of adab). Ketiga, munculnya pemimpin palsu.

Persoalan hilangnya adab, menurut al-Attas mengatakan:

As to the internal causes of the dilemma in which we find ourselves, the basic problems can – it seems to me – be reduced to a single evident crisis which I would simply call the loss of adab. I am here referring to the loss of discipline – the discipline of body, mind, and soul.

Syed al-Attas menjelaskan maksud hilangnya adab adalah merujuk pada hilangnya kedisiplinan dalam raga, pikiran dan jiwa. Kedisiplinan yang dimaksud adalah disiplin dalam hal menuntut pengenalan dan pengakuan atas tempat yang tepat bagi seseorang dalam hubungannya dengan diri, masyarakat, dan umatnya. Dari sini, dapat disimpulkan fenomena Phubbing merupakan fenomena yang melupakan posisi dirinya dan posisi orang lain di sekitarnya, sehingga tidak sopan dan adil, maka hal ini dinilai sebagai tindakan yang tidak beradab.

Baca juga : Pendidikan Marxis-Sosialis VS Pendidikan Adab

Solusi Permasalahan Phubbing

Phubbing merupakan fenomena yang telah menjamur terjadi di kehidupan modern saat ini, yang dinilai memberikan dampak negatif terkhusus dalam kaitanyya hubungan sosial. Mungkin jika sesekali atau duakali tidak memberikan efek yang signifikan, namun jika hal ini terjadi terus menerus, para pakar menjelaskan diatas akan menjadi masalah. Masalah dalam diri sendiri karena melewati momen berharga dan masalah sosial dengan rusaknya hubungan kekeluargaan, pertemanan, atau percintaan. Maka dibutuhkan kesadaran akan masalah ini dan solusi untuk memperbaiki kualitas kehiduapn kita lebih baik.

Sebagai seorang muslim, sebagai solusi yang dapat djadikan landasan dalam Islam adalah memperbaiki keimanan dan memperbaiki adab. Menjadi seorang muslim sekaligus menjadi orang yang mukmin. Ketika orang itu paham agama Islam dan paham bagaimana berislam dengan sebaik-baiknya, maka akan mampu bersikap adil dan mencapai taraf insaniyah yang paling tinggi.  Syed al-Attas menyatakan,

“Maka orang yang benar, yang baik, yang beriman-ialah Muslim dan Mu’min- ialah orang yang adil terhadap dirinya, karena dia telah menempatkan dirinya pada tempat yang tepat, yang sesuai dengan bawaan tabiat semula, dan dengan demikian telah dapat mencapai taraf kemurnian insaniyah yang membawanya setingkat demi setingkat kepada maqam diri yang tentram sempurna menikmati kesejahteraan hakiki”.

Memperbaiki keimanan, akan berimplikasi kepada perbuatan akan kesadaran adab dan sikap adil. Dengan demikian, kebiasaan buruk Phubbing dapat di hentikan dan bahkan dapat diletakkan pada posisi yang adil dalam penggunaan teknologi informasi di zaman modern ini. Wallahu A’lam bi al-Shawaab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.