Ponorogo – Deklarator Asosiasi Kampus Berbasis Akhlak Mulia Dr. Adian Husaini ajak Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Angkatan XIV membedah hegemoni peradaban sekuler Barat dalam pendidikan. Dalam kuliah yang berlangsung selama dua hari, peserta PKU diberi pemahaman bahwa peradaban Barat tidak hanya mencerabut masyarakatnya dari agama, tapi juga akan mencerabut Muslim dari ajaran Islam.

“Snouck Hurgronje mengatakan, pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan kalangan muslimin dari genggaman Islam,” terang Dr Adian Husaini pada Jumat (3/7/2020) di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Dalam perkuliahan ini, peserta PKU diajak menelusuri sejak awal akar peradaban Barat yang sekuler akibat trauma berkepanjangan berada di bawah kuasa Gereja. Masa yang berlangsung sejak abad ke-5 Masehi hingga 13 Masehi tersebut oleh masyarakat barat disebut sebagai The Dark Ages, masa Kegelapan. Sementara justru masa ketika mereka lepas dari agama, dianggap sebagai masa pencerahan (Renaissance) dan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan.

Baca juga : Soft Launching Buku Terbaru Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi Dihadiri Seluruh Peserta PKU XIII UNIDA GONTOR

“Orang Barat merasa mereka ratusan tahun dibohongi oleh Tuhan, maka muncul sekularisme karena kapok dipimpin Tuhan. Nah kita (Umat Islam) disuruh ikut kapok, padahal tidak ada masalah dengan Tuhan,” jelas Dr Adian Husaini, yang merupakan penulis Buku Wajah Peradaban Barat.

Mengutip Leopold Weiss, ilmuwan keturunan Yahudi Hongaria yang kemudian menjadi Muslim dan berganti nama menjadi Muhammad Assad, Dr Adian Husaini menerangkan bahwa hakekat peradaban barat tidak bisa diterima oleh Kristen, Islam dan agama lain.

“Karena ia anti agama dalam inti esensinya,” ujar Dr Adian Husaini.

Kendati demikian, sekularisasi telah mengubah wajah peradaban Barat dari yang semula dihegemoni oleh kuasa Gereja menjadi peradaban yang meminggirkan jauh-jauh agama dari segala sendi kehidupannya. Bahkan Teolog Kristen asal Amerika Serikat Harvey Cox mengafirmasi sekularisasi dan mengajak umat kristiani tidak menolaknya jika ingin Kristen eksis di dunia modern.

“Islam tidak bisa demikian (menerima sekularisme), sebab Islam tidak dibentuk oleh sejarah, karena bukan agama sejarah, Islam itu dari wahyu, bukan agama tradisi, bahwa mengakomodir tradisi itu iya, tapi tradisi tidak boleh mengubah ajaran Islam,” terang Dr Adian Husaini.

Setelah menelusuri jejak peradaban Barat yang berubah menjadi sekuler, Dr Adian Husaini menyorot betapa pendidikan menjadi sarana strategis yang disasar oleh sekularisme untuk memisahkan umat Islam dengan agamanya.

Secara terperinci, peserta PKU diberi gambaran bagaimana politik etis sejak era penjajahan Belanda berupaya membangun pondasi pendidikan sekuler di Indonesia. Bahkan Dr Adian Husaini juga mengajak peserta menelusuri bagaimana pendidikan sekuler mengakar dengan amat kuat dalam kurikulum pendidikan Indonesia hari ini.

Setelah memahami peta sekularisasi di Indonesia, guna membendungnya peserta PKU diajak oleh Dr Adian Husaini untuk meneladani sejarah ulama sejak dahulu hingga hari ini. Mulai dari Imam Al Ghazali yang mengajak umat Islam kembali menghidupkan ilmu, Syed Naquib Al Attas yang memetakan peradaban Barat dan konsep komprehensif Islam dalam menghadapinya, hingga keteladanan ulama dan pejuang di Nusantara seperti Buya Hamka dan M Natsir.

Dalam kuliah yang berlangsung selama 4 sesi tersebut, peserta PKU yang merupakan utusan dari berbagai Organisasi Kemasyarakatan (ormas) Islam, Yayasan dan Kampus merasa antusias atas materi yang disampaikan.

“Kuliah ini banyak mengingatkan tentang taktik liberalisme. Sehingga banyak yang sadar bahwa banyak pelajaran sejarah yang sesungguhnya tidak ilmiah. Dan itu sudah menjadi kesalahan yang terstruktur di institusi pendidikan,” ujar Syamila Karunia pesera utusan Persatuan Islam (PERSIS) Garut.

Baca juga : INSISTS Saturday Forum : Silaturahim Ilmiah PKU dengan Lingkaran Intelektual Jakarta

Sementara menurut Maryam Arrosikha, peserta utusan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, paparan tentang sekularisasi pendidikan yang disampaikan oleh Dr Adian Husaini berdasarkan bukti yang kuat, ilmiah dan analisa yang kuat.

Senada dengan peserta lain, Lukman Nawang peserta utusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Blitar merasa tercerahkan setelah mengikuti perkuliahan.

“Dari perkuliahan ini, saya sadar bahwa banyak permasalahan yang sangat ruwet di luar sana dalam perihal pemikiran dan cara pandang aneh dan tidak ilmiah seakan akan pernyataan itu benar tapi pada kenyataannya salah kaprah, dan mungkin banyak sekali yang baru saya tahu dari banyaknya permasalahan yang disampaikan tadi,” kata Nawang.

Pewarta: Ahmad Jilul QF/Peserta PKU 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.