Wacana Kontemporer

Dua topik yang sering menjadi diskursus publik yakni Domestic Violence dan konsep kekayaan menjadi pembahasan menarik dalam Webinar Pemikiran dan Peradaban Islam kerjasama antara Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Webinar yang digelar pada Selasa (24/11/2020) ini, diikuti oleh 111 partisipan secara daring melalui aplikasi Zoom dan berhasil menarik antusiasme peserta untuk bertanya terkait judul yang dibawakan oleh kedua pembicara.

Acara yang dimulai tepat pukul 20.00 WIB dihadiri oleh beberapa tokoh penting, di antaranya adalah Drs. H. Achmad Bachrun Rifa’i, M. Ag. selaku Dewan Pembina dan ketua LDM UIN Sunan Gunung Djati, Dr. Nur Hadi Ikhsan, MIRKH sebagai pembimbing Program Kaderisasi Ulama Universitas Darussalam Gontor, serta Anggi Febriant Noor selaku ketua umum dari LDM UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam makalah berjudul “Konsep Domestic Violence dalam Wacana Feminisme”,  pemakalah pertama Syamila Karunia menyebut selama ini kekerasan domestik dipahami sebagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh pasangan yang sedang berada dalam lingkup pernikahan. Sayangnya, kalangan feminis berupaya untuk mengubah konsep kekerasan domestik sehingga tidak hanya tindak kekerasan dalam ikatan pernikahan, namun juga dalam intimate partner seperti hubungan pacaran, laki-laki dan perempuan yang tinggal serumah, juga terdapat peluang kekerasan domestik.

“Apa bahaya jika hubungan non-pernikahan masuk ke dalam konsep domestic violence? Hubungan tersebut bisa diprivatisasi. Contoh, orang yang mempermasalahkan hubungan sesama jenis bisa dipidana. Tidak hanya itu, konsep seperti ini juga menganggu urgensi institusi keluarga. Seolah hubungan keluarga tidak berbeda jauh dengan hubungan intimate partner,” ujar Syamila. Ia menegaskan bahwa adanya konsep kekerasan domestik demikian hanyalah upaya kalangan feminis untuk melegalkan hubungan di luar pernikahan.

Pemakalah kedua dengan makalah berjudul “Materialisme dan Problem Konsep Kekayaan dalam Ekonomi Kontemporer”, Apriyanti Kartika Agustin menjelaskan mengenai persoalan konsep kekayaan yang dipandang secara materialistis sebatas pada aspek harta dan kebendaan. Apriyanti menyebut kekayaan menjadi persoalan bermula pada paham kapitalisme yang mendudukkan kekayaan hanya sebagai kepemilikan yang terbatas pada pribadi semata.

“Sedangkan, Islam mendefinisikan harta (mal) sebagai yang dimiliki secara individu maupun kolektif, seperti barang-barang yang berguna, barang dagangan, perumahan, uang, atau hewan. Di sisi lain, kekayaan dalam Islam tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang sifatnya materi, namun juga non-materi. Maka dalam Islam, ghina (perasaan cukup) juga termasuk dalam konsep kekayaan karena membuat seseorang tidak membutuhkan yang lainnya.” kata Apriyanti.

Kendati demikian, Apriyanti menegaskan bahwa Islam tidak melarang orang untuk menjadi kaya secara materi, seperti memiliki uang, kendaraan bagus, rumah mewah. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kekayaan dijadikan sebagai tujuan utama dalam hidup manusia.

Setelah pemaparan oleh pemakalah, dalam sesi diskusi salah satu peserta menanyakan cara bagaimana meminimalisir stigmatisasi, subordinsi, dan kekerasan yang dialami oleh perempuan. Menjawab pertanyaan tersebut, Syamila menegaskan bahwa perempuan harus mengetahui kewajibannya yang berbeda sebelum menikah kepada keluarga dan setelah menikah kepada suami.

“Perempuan harus bisa melakukan banyak hal dan yang paling utama adalah sebagai robatul bait (pengurus rumah tangga). Jika kewajiban itu tidak terbengkalai, maka perempuan boleh untuk beraktivitas di luar dengan memerhatikan rambu-rambu. Oleh karenanya, bisa membuktikan bahwa tidak ada subordinasi dalam Islam,” jelas Syamila.

Pertanyaan selanjutnya terkait dengan kekerasan domestik dalam Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). “Jika dikatakan bahwa domestic violence mengalami kerancuan dalam definisi, maka hal ini akan berdampak pada terhambatnya pengesahan RUU-PKS. Bagaimana jika konsep domestic violence yang diseleraskan dengan agama, apakah mungkin RUU PKS disahkan?,” tanya salah satu peserta.

Syamila dengan lugas menjawab bahwa kita harus seksama menelaah kembali poin-poin dalam RUU PKS. Mengkaji naskah draft RUU PKS akan membuat kita lebih jeli untuk memeriksa poin-poin yang bermasalah dalam RUU PKS.

Pertanyaan terakhir ditujukan kepada Apriyanti, yakni terkait materialisme sudah mendarah daging dan menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Apriyanti menjawab bahwa hal tersebut bisa dimulai dari diri sendiri. Mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini.

“Sebelum membuat keputusan untuk membeli barang, pertimbangkan dengan baik apakah barang tersebut benar-benar diperlukan. Hal ini dilakukan mengingat dampak materialisme yang merugikan sehingga pembelian barang harus dipertimbangkan secara matang,” jawab Apriyanti.

Setelah sesi tanya jawab, acara ditutup oleh epilog yang disampaikan oleh Dr. Nur Hadi Ikhsan, MIRKH. Beliau menambahkan bahwa isu kekerasan domestik dan permasalahan harta, bukanlah isu yang melekat pada tradisi umat islam, Ide ini berkembang dalam masyarakat kontemporer, termasuk Barat yang memiliki nilai sekuler dan liberal. Meski berasal dari Barat, nyatanya cara pandang itu sudah memengaruhi umat Islam. Maka tak heran jika dalam tubuh umat Islam juga ditemukan problem yang serupa. “Oleh karena itu, kita harus cermat, cerdas, dan kritis dalam menyikapi isu yang berkembang,” tegas Dr Nur Hadi Ikhsan.

Mayoritas peserta amat antusias dalam mengikuti webinar, terbukti dari banyaknya peserta yang bertahan hingga akhir acara. Acara berjalan dengan sangat baik dan kondusif. Sampai di penghujung acara, dilakukan sesi doa dan dilanjutkan dengan foto bersama. Sebagaimana disampaikan Dr Nur Hadi Ikhsan, MIRKH, acara ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi lahirnya generasi intelektual ulama, yaitu cendekiawan yang memiliki pemikiran luas dalam penguasaan masalah kontemporer beserta tantangannya.

 

Kontributor: Nur Fajriati Nadlifatil Khoir

Editor: Ahmad Jilul QF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.