Oleh : Ayu Arba Zaman

pku.unida.gontor.ac.id- Suatu ketika seorang Profesor dari Jerman mengisi kuliah dengan mengutip salah satu ayat al-Qur’an yang secara gramatikal tertulis ترجعون. Pada pengucapannya Profesor tersebut melafalkan Tarji’uun. Kemudian dikritik oleh mahasiswanya yang berasal dari Indonesia. “You are wrong, Profesor. Not Tarji’uun but Turja’uun.”

Jika kita ingin melihat otensitas dan otoritas al-Qur’an yang telah dijamin keasliannya dalam QS. al-Hijr ayat 9, kita bisa telusuri bagaimana ayat-ayat al-Qur’an tersebut turun, ditulis dan kemudian dibukukan dengan melihat seluruh prosesnya secara komprehensif dan eksperimental. Al-Qur’an itu sendiri, sejak pertama kali diturunkan ia bersifat tanzil, tidak ditulis dan tidak juga berbentuk teks. Turun dengan dilafadzkan, yang kemudian dihafal oleh para sahabat dan dituliskan. Pada saat Jibril AS. menyampaikan Kalam tersebut kepada Rasulullah SAW. ia benar-benar sama dengan apa yang diturunkan-Nya, Rasulullah SAW sama sekali tidak bercampur tangan pada isi redaksinya.

Baca Juga: Liberalisme Sebuah Tantangan Nyata Dunia Islam

Kemudian setelah wahyu itu turun secara tanzil, dihafal oleh orang-orang yang memiliki otoritas, Kalam tersebut kemudian dibukukan beberapa dekade setelah Rasulullah SAW wafat. Ketika Sayyidina Utsman membukukan Al-Qur’an, kodifikasi yang dilakukan saat itu amat sangat ketat. Tradisi sanad yang berlangsung sejak Rasulullah pertama kali mendapat wahyu menjadi sandaran saat pembukuannya. Sehingga tidak mungkin terjadi penyimpangan di dalamnya. Zaid bin Tsabit ketika ingin memasukkan 1 ayat ke dalam mushaf, ia memberi syarat: selain dihafal harus ada saksi minimal 2 orang yang menyaksikan ayat tersebut ditulis semasa Rasulullah SAW hidup.

Tradisi sanad ini menyelamatkan umat dari perpecahan mushaf seperti yang terjadi pada umat-umat sebelumnya, menjaga keotentikan dan otoritas, serta memberikan contoh yang sampai hingga kepada Rasulullah dalam segi pelafalan. Sehingga kesalahan-kesalahan pelafalan seperti yang diucapkan Profesor dari German di atas akan segera terdeteksi dan dikoreksi.

Walaupun secara gramatikal dan keterbatasan tanda baca di zaman Rasul kata ترجعون dapat dilafalkan Tarji’uun, Turja’uun, Tarjuun dsb. Atau lafadz الم bisa saja dilafalkan Alam, Alim, Ulum ataupun Alif Lam Mim, namun riwayat pelafalan ترجعون, الم, dan lain-lain itu hanya satu yakni yang diajarkan Rasulullah SAW.. Dengan tradisi sanad ini kecelakaan yang dialami-contohnya-orang Yahudi tidak terjadi pada kaum Muslim. Yahudi yang tidak memiliki tradisi sanad mengakibatkan mereka bergantung pada tulisan. Pelafalan dilakukan dengan spekulasi. Seperti kata “ي ھ و ھ” refers to God of Judaism, sampai hari ini terus menjadi mystery of tetragramaton karena 4 konsonan tersebut tanpa huruf vokal. Pada akhirnya 4 huruf tersebut dilafalkan dengan ‘Yahweh’
ذلك الكتاب لاريب فيه [2:2]

Namun, meski telah paripurna demikian, serangan terhadap Al-Qur’an terus saja terjadi, orientalis yang kebanyakan beragama Kristen atau Yahudi merasa gerah mahkotanya diguncang setelah kurang lebih 300 tahun duduk di tahta pasca konsili Nicea pasca datangnya Islam yang mengkritisi agama-agama mereka.

Marthin Luther, John of Damascus beramai-ramai menyoraki bahwa al-Qur’an adalah Diabolical Script. Di abad 19, hujatan serupa belum juga surut. Dengan cara lain mereka menyampaikan hinaan tersebut dengan metode yang disebut dalam QS. Al-An’am : 112 ‘Zukhruufal Qouli Ghururo’, para orientalis mempelajari al-Qur’an ke timur tengah, dan mengajarkannya pada mahasiswa Muslim. Sehingga terdengarlah seruan ala Luther versi elegan yang berbunyi “al-Qur’an adalah karangan Muhammad.” “al-Qur’an adalah produk budaya Arab dan kepentingan politik Utsmani”. “Muhammad telah menjiplak Bible”. Keragu-raguan mereka sampaikan dengan logika yang indah tapi menipu. Seperti yang dikatakan seorang Doktor di PT di Ponorogo, “Wahyu memuat pesan otentik Tuhan, al-Qur’an adalah wujud konkret pesan Tuhan dalam bahasa arab oral yang memuat sekitar 50% pesan Tuhan. Dan mushaf Utsmani sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk tulisan hanya memuat kira-kira 30% pesan Tuhan.”

Selain meragukan proses kodifikasinya, desakralisasi juga dilakukan dengan cara membaca pesan al-Qur’an melalui studi kritis sejarah yang digunakan pada Bible. Teks al-Qur’an dibaca dengan cara memahami kondisi kejiwaan, sosial dan budaya pengarangnya. Metode yang disebut Hermeneutika ini secara otomatis memposisikan al-Qur’an sebagai kitab yang ditulis oleh seorang pengarang. Metode yang pada awalnya digagas Johann Solomo Semler (1725-1791) ini kemudian dikembangkan Schleiermacher (1768-1834) dan dicangkok oleh Abu Zayd. Dalam konteks Al-Qur’an, Abu Zayd memposisikan Nabi saw sebagai ‘pengarang’ Al-Qur’an, kemudian ia mengaduk-aduk logika diabolik bahwa, Muhammad sebagai ‘pengarang’ yang hendak menyampaikan pesan Tuhan kepada masyarakat yang memiliki kondisi sosial, budaya, politik dsb. beliau ikut aktif meredaksi kalam-Nya agar upaya rekonstruksi massa nya berhasil. Gagasan Abu Zayd ini tentunya akan membuat terkikik orientalis generasi-generasi awal yang menyebut agama Islam sebagai “Agama Muhammad” atau “Mohammedanism” dan menyebut umat Islam sebagai “Mohammedan”.

Dr. Adian mengatakan dalam bukunya dampak digunakannya Hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an adalah: Pertama, Relativitas tafsir. Tidak ada tafsir yang tetap. Semua tafsir dipandang sebagai produk akal manusia yang relatif, kontekstual, temporal dan personal, hal ini mengakibatkan (1) menghilangkan keyakinan akan kebenaran dan finalitas Islam, sehingga selalu berusaha memandang kerelativan kebenaran Islam, (2) menghancurkan bangunan ilmu pengetahuan Islam yang lahir dari Al-qur’an dan dan Sunah Rasul yang sudah teruji selama ratusan tahun, (3) menempatkan Islam sebagai agama sejarah yang selalu berubah mengikuti zaman. Kedua, Curiga dan mencerca ulama Islam. Dalam sebuah artikel yang berjudul Al-Qur’an dan Hegemoni Arabisme dari seorang sarjana syariah IAIN Semarang dituliskan : “Syafi’i memang terlihat sangat serius melakukan pembelaan terhadap Al-qur’an mushaf Utsmani, untuk mempertahankan hegemoni Quraisy.

Baca Juga: Ateisme sebagai Ideologi Komunis

Maka dengan melihat realitas tersebut di atas, sikap moderat Syafi’i adalah moderat semu. Dan sebenarnya, sikap Syafi’i yang demikian itu tak lepas dari bias ideologis Syafi’i terhadap suku Quraisy.” Ketiga, Dekonstruksi konsep Wahyu. Para pengusung paham dekonstuksionis memandang bahwa Al-qur’an adalah produk budaya yang terbentuk dalam kurun sejarah tertentu. Abdul Moqsith menjajal tendangannya, terbitlah satu buku berjudul Dialog Antar Umat Beragama, di mana ia menafsirkan bahwa ayat Al-qur’an yang mengharamkan Muslim menikah dengan non-Muslim secara otomatis berubah hukumnya dikarenakan hari ini keduanya tidak dalam kondisi perang, argumen Moqsith adalah karena ia mengganggap turunnya ayat disebabkan kedua belah pihak dalam kondisi berperang sehingga Rasul melarang keduanya menjalin hubungan untuk mempertegas posisi ke-Islaman.

Dengan demikian, toksin bahwa Al-Qur’an adalah produk budaya yang dikarang Muhammad dalam upayanya menjawab tantangan sosial, politik, ekonomi masyarakat pada masa itu—dapat ditafsirkan secara bebas akan mulai bersiul-siul merayu intelektualis untuk mengopernya. Alphonse Mingana, Canon Sell, Na’im, Abu Zayd, Arkoun mulai melempar dan menendang-nendang, sayangnya lagi-lagi membentur tiang gawang, karena memang, salah satu kekuatan Islam adalah terfilternya otoritas ilmu, sehingga tersingkaplah mana yang haq dan mana yang bathil. Wallahua’lam bisshowab.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU XIII) Unida Gontor
Ed. Admin pku

One Thought on “Desakralisasi al-Qur’an”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.