Oleh: Hasan Ansori/Peserta PKU Angkatan 10

pku.unida.gontor.ac.id-Sesungguhnya Columbus telah tahu betul akan keadaan benua itu sebelum dia beserta pasukannya berlayar ke tempat tersebut. Tidak hanya itu, Columbus juga tahu betul tentang adanya masyarakat Muslim di benua tersebut.

Di dalam pelayarannya Columbus mendapat suntikan dana yang melimpah  dari ratu Isabela yang merupakan salah satu pribadi shalibi yang paling keji sepanjang sejarah yang sangat membenci kaum muslimin, dan dia lah yang mengajukan kesepakatan bersama seorang penguasa Granada (salah satu provinsi di Andalusia) untuk memusnahkan kaum muslimin di Granada sebelum berlayar ke benua Amerika untuk membantai kaum muslimin di sana. Isabela menyerahkan ekspedisi pembantaian ini kepada Columbus di sebuah kamar istana merah.

Sekarang bagaimana cara kita untuk membuktikan bahwa orang Islam telah menemukan benua Amerika terlebih dahulu? Rupanya kaum muslimin memang telah menemukan benua Amerika sejak abad ke 1 Hijriah. Pada abad itu ada salah seorang ulama bernama ‘Amir al-Sya’bi yang dilahirkan pada tahun 21 H, tepatnya pada masa khilafah ‘Umar al-Faaruq RA. beliau memiliki sebuah perkataan yang sangat menakjubkan yang tertera di dalam buku karya Abu Bakar Ahmad ibn Muhamad ibn al-Khallal yang berjudul al-Hatsu ‘ala al-Tijaroh wa al-Shina’ah wa al-‘Amal, “sesungguhnya Allah SWR memiliki sejumlah hamba yang beriman di balik negri Andalusia, jarak mereka dari Andalausia seperti jarak kita ke Andalusia, keyakinan mereka tidak ada satu makhluk pun yang menyalahi aturan Allah. Intan permata di tempat itu layaknya batu kerikil sangat melimpah, mereka memiliki gunung-gunung kaya dengan emas dan perak, tidak bercocok tanam, tidak perlu berkerja, mereka memiliki pohon-pohon yang berbuah di hadapan pintu rumah mereka sebagai makanan pokok, juga memilki pohon-pohon yang berdaun lebar sebagai pakaian mereka”.

Baca juga : Problem Pembaruan Pemikiran Islam; Dari Modernisasi ke Sekularisasi

Seseorang yang memiliki sifat analisis tingkat tinggi akan ilmu dan sejarah, pasti akan menyimpulkan bahwa itu adalah sifat untuk orang Indian. Sebagaimana yang telah diketahui, bahwa keduanya adalah kedua Amerika yang kaya dengan emas dan perak, dan di sana pula terdapat suatu peradaban yang dibangun gedung-gedungnya dengan emas dan perak. Sebagaimana yang telah diketahui pula bahwasanya Amerika, khususnya Amerika latin adalah tempat yang sangat kaya akan buah-buaan yang bermacam-macam, begitu pula pakaian mereka yang tradisional seperti yang disebutkan oleh al-Sya’bi adalah pakaian yang dikenakan oleh orang Indian. Begitu pula letak geografis yang disebutkan dan diukur oleh beliau merupakan perumusan di dalam pengukuran yang sangat dahsyat dan menakjubkan. Tidak ada tempat apa pun di belakang Andalusia selain samudera atlantis. Dan jika kita ukur jarak antara kota Kufah (tempat yang dihuni oleh Imam al-Sya’bi) dengan Andalusia, kita akan mengetahui ternyata jaraknya sama seperti dari Andalusia ke Amerika percis yang dikatakan oleh al-Sya’bi.

Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa kaum muslimin, atau sebagian di antara mereka telah mengetahui keberadaan benua di balik Andalusia. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa Imam al-Sya’bi mengetahui informasi yang monumental seperti ini? Apakah beliau mengetahui hal itu dari para sahabat yang mendengarnya langsung dari Rasulullah SAW?. Yang pasti beliau tidak mengatakan hal itu sebatas dari khayalan belaka, atau faktor kebetulan semata.

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh para sejarawan Islam seperti Imam al-Thabari di dalam Tarikhu al-Rusul wa al-Muluk, Ibn al-Atsir al-Kamil fi al-Tarikh, Ibn Katsir al-Bidayah wa al-Nihayah, dan al-Dzahabi di dalam Siaru al-A’lam al-Nubala bahwasanya pada abad pertama Hijriah tepatnya  pada tahun 63 ada salah seorang kesatria Arab dari bangsa Quraisy yang bernama ‘Uqbah ibn Nafi’ (anak dari bibi ‘Amr ibn al-‘Ash RA). Kesatria muslim yang gagah ini berhasil menaklukan Tunisia, al-Jazair dan Maroko sehingga sampai di samudra atlantik yang pada zaman itu dinamakan dengan bahru al-zhulumat (laut gelap) ia menatap samudera tersebut lalu mengangkat kedua tangannya dengan kedua bola mata yang berlinam air mata membasahi wajahnya, ia berkata dengan suara yang bercampur nada sedu tangisan dan deru ombak dari pantai lautan kegelapan itu, “Ya Allah, seandainya aku tahu bahwa di balik samudra ini terdapat daratan, tentu aku akan mengarunginya demi-Mu agar aku bisa menegakan kalimat ‘laa ilaaha illallah’ di sana”. Dengan ini kita bisa mengatakan bahwa kaum muslimin begitu ambisius untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Pada abad ke 3 Hijriah,  seorang sejarawan Islam yang terkenal bernama Abu al-Hasan ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali al-Mas’udi di dalam bukunya yang berjudul Muruju al-Dzahab wa Ma’adinu al-Jauhar mengatakan, bahwasannya salahseorang petualang dari Cordoba bernama al-Khasykhasy ibn Sa’id ibn al-Aswad telah melakukan sebuah ekspedisi dengan menyebrang lautan kegelapan (samudra atlantik) itu bersama timnya sehingga sampai lah di suatu daratan di balik lautan kegelapan itu. Pada tahun 889 al-Kasykhasy kembali dan menceritakan kisah petualangannya itu.

Pada abad ke 6 Hijriah tepatnya pada tahun 1154 M, seorang ilmuan geografi Islam bernama Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Muhammad al-Idrisi al-Hasyimi al-Qurasyi yang akrab dipanggil dengan sebutan al-Idrisi telah menggambarkan sebuah peta yang berbentuk bola (globe). Ini menunjukan bahwa kaum muslimin telah mengetahui bahwa bumi itu dalam bentuk bola. Mengenai gambar peta semua orang pasti telah melihatnya. Para ilmuan terdahulu menggambar peta dengan menjadikan Utara di bawah dan Selatan di atas. namun ada yang berbeda dengan peta yang digambarkan oleh ilmuan yang satu ini. Al-Idrisi menggambar sebuah daratan di balik samudra atlantik dan diberinama al-Ardh al-Kabirah (daratan yang luas). Perhatikanlah penamaan tadi, ia tidak berkata tentang pulau-pulau kecil, namun beliau berbicara tentang sebuah benua.

Pada abad ke 12 Syarif al-Idrisi di dalam bukunya al-Mamalik wa al-Masalik ia menyebutkan cerita petualangan anak muda Islam dengan menggunakan kapal raksasa dari Isbona (yang sekarang menjadi Ibukota Portugal) yang ketika itu di bawah genggaman kaum muslimin. Beliau menyebutkan bahwa para petualang itu telah berhasil mengarungi lautan kegegelapan dan sebagian di antara mereka kembali pulang dan menceritakannya kepada masyarakat kisah petualangannya. Mereka juga mendeskripsikan pulau yang mereka singgahi beserta penghuni dan para raja yang berkuasa di sana. Hal yang paling mencengangkan bagi mereka adalah ketika mereka mendapati penghuninya berbahasa Arab. Keberadaan masyarakat yang berbahasa Arab di sana menunjukan sampainya orang-orang dengan jumlah yang besar dan berbahasa Arab, atau dengan bahasa lain ini menunjukan adanya orang-orang Islam dari Arab di daratan itu sejak zaman lampau. Di sini kita sedang membicarakan keadaan sebuah benua lebih dari 300 tahun sebelum sampainya Columbus ke tempat itu.

Pada abad ke 8 Hijriah (14 M) Syihabuddin al-‘Umari di dalam bukunya yang berjudul Masaliku al-Abshar fi Mamaliki al-Amshar menyebutkan sebuah kisah yang sangat menakjubkan. Yaitu ada salah seorang Raja di kerajaan muslim di Mali (kerajaan yang sangat kaya akan emas) yang bernama Mansa Musa ketika pergi untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 1327 memberitahukan bahwa saudaranya yang telah menjadi raja terlebih dahulu telah menyiapkan 200 unit kapal dan mengarungi samudra atlantik hingga sampai ke daratan di sebrangnya dan mewkailkan kerajaan kepada Musa, akan tetapi saudaranya belum kembali sehingga ia pun menjadi raja di tempat tersebut.

Baca juga: Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang

Setelah analisa, ternyata raja yang menghilang itu bernama Abu Bakar ke 2. Raja yang satu ini memiliki keperibadian yang sangat menakjubkan, ia rela melakukan ekspedisi untuk tinggal di Bumi yang baru dan memberikan kerajaan demi menyebarkan Islam di sana. Raja tersebut menyerahkan pandu kerajaan pada tahun 1311, itu artinya raja ini telah melakukan pelayaran ke benua Amerika sekitar 200 tahun sebelum sampainya Columbus.

Di dalam sebuah manuskrip, Columbus pernah menulis tentang adanya orang Afrika di sana, dan ia juga meyebutkan bahwa orang Amerika asli belajar cara mengolah emas dan mencampurnya dengan bahan tambang yang lainnya. Columbus juga meyakini bahwa itu adalah cara tradisional orang Afrika dan sangat mustahil jika orang Amerika melakukan hal itu atas dasar kebetulan semata. Pada tahun 1943 M ia menyebutkan bahwa pakaian yang dikenakan wanita di sana sama percis dengan pakaian yang dikenakan oleh wanita muslim di Granada.

Kisah petualangan Abu Bakar ini diceritakan oleh saudaranya Musa kepada al-‘Umari ketika ia berkunjung ke Mesir selepas ibadah hajinya pada tahun 1324, dan menyebutkan bahwa Abu Bakar sebelum meluncur, ia telah melakukan banyak uji coba terhadap kapal-kapal agar dia tahu daya tahan kapal-kapal itu dan pada pelayarannya ia memenuhi kapalnya dengan kebutuhan logistik yang telah dikeringkan cukup untuk dua tahun dengan membawa berton-ton emas murni.

Pada tahun 1976 salah seorang profesor dari Amerika di Universitas Rutgers Ivan Van Sertima di dalam bukunya yang berjudul They Came Before Columbus menyebutkan hal yang sama dengan berbagai argumentasi.

Dari sini kita tahu kebohongan musuh Islam yang mengatakan bahwa Eropa adalah penemu benua Amerika, bahwa Eropa sebagai pengajar peradaban kepada bangsa Mali, yang pada hakikatnya kita lah yang menemukan benua itu, dan kitalah yang mengajari peradaban kepada mereka sebelum mereka tahu apa itu peradaban. Hal itu mereka lakukan agar kita merasa inferior atau minder belaka. Wallahu a’lam

Diambil dari buku Miatun min ‘Uzhama Ummati al-Islam Ghayyaru Majra al-Tarikh

Edited by Admin PKU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.