Oleh: Khoirul Fata, M.Pd

pku.unida.gontor.ac.id- Pada kesempatan kali ini -atas izin penulis- admin akan menghadirkan ulang -diambil dari akun fb beliau- tulisan al-Ustadz Khoirul Fata, M.Pd, alumni PKU UNIDA-Gontor angkatan VI, yang saat ini selain merupakan dosen Pendidikan Bahasa Arab di UNIDA-Gontor, beliau juga tercatat sebagai salah satu anggota dalam kepengurusan JATMAN (Jam’iyyah Thoriqoh Mu’tabaroh an-Nahdhiyyah) Kabupaten Madiun, periode 2019-2023.

Melalui uraiannya, Pak Fata, bisa kami memanggil, memotret secara ringkas, berdasarkan pada pengalaman kakek beliau yang artinya secara sanad cukup ‘muttasil’ dan terpercaya, perihal bagaimana sikap para Ulama, utamanya di kalangan Nahdhiyyin bersatu-padu dengan TNI untuk melawan PKI. Uniknya, catatan beliau semacam mengungkap bahwa di samping usaha, persiapan fisik serta kematangan strategi ada amaliah lain dan tak kalah penting, darinya faktor-faktor X, yakni pertolongan Allah datang tanpa diduga dan dinyana.

Berikut kami muat ulang ulasan al-Ustadz, Khoirul Fata dengan sedikit penyesuaian :

**

Dalam catatan riwayat mbah kakung kami, K.H Abdul Mukti, Beran, Ngawi (perintis/pejuang NU di wilayah Ngawi) tersimpan foto bersejarah pertemuan antara mbah kakung dengan Jend. A.H Nasution (Menteri Hankam) disertai keterangan di bawahnya :

” Foto bersama (Jend. A.H Nasution) setelah K.H Abdul Mukti menyampaikan hasil istikhoroh (isyarat batin) para ulama Jawa Timur, bahwa sebentar lagi akan terjadi musibah (huru-hara) yang akan memakan korban ribuan bangsa Indonesia (ternyata G/30/S/PKI). Berdua berikrar akan bekerja sama dan saling membantu antara ulama dan militer

(tulisan anis prabowo salah seorang murid K.H Abdul Mukti, 4 Juli 1965)

Foto ini setidaknya menambah bukti adanya derap langkah kebersamaan antara para tokoh NU dan pimpinan militer dalam memberangus gerakan ideologi komunis dan mesin politiknya PKI, sebelum meletusnya peristiwa Gestapu 65.

Sikap “anti PKI” ini dipicu oleh pengalaman pahit keduanya yang pernah menjadi korban keganasan pemberontakan PKI, 19 September 1948, atau biasa dikenal dengan ” Peristiwa Madiun “. Oleh para pimpinan ABRI, peristiwa itu dianggap sebagai tikaman terhadap revolusi Indonesia yang belum selesai ketika itu. Sedangkan, kalangan nahdhiyyin, tidak bisa melupakan begitu saja, korban terbesar dampak kudeta PKI di Madiun pada 19 September 1948, yaitu mereka para Ulama, Kyai dan santri dari kalangan NU.

Sekalipun memiliki tujuan sama, namun kedua belah pihak memiliki sikap berbeda untuk bertarung melawan PKI. ABRI cenderung offensif, hal ini ditunjukkan oleh Jend. A.H Nasution yang gencar menyuarakan penolakannya terhadap PKI untuk masuk dalam sistem pemerintahan (kabinet). Namun sikap ” tegasnya ” sang jenderal, justru dimanfaatkan oleh PKI untuk merenggangkan hubungan presiden dengan Jend. Nasution. Walhasil Pak Nasution dicopot jabatannya sebagai KSAD pada Juni 1962.

Sebaliknya, sikap defensif dipilih oleh NU dalam menghadapi situasi politik yang tak menentu, dimaksudkan untuk memudahkan masuknya NU dalam kabinet baru. Sebab dengan duduk dalam kabinet kerja, NU bisa leluasa menghalau politik PKI plus “izaalatul munkarot” sebagaimana diupayakan PKI dalam merebut kekuasaan. Sikap seperti ini ditegaskan sendiri oleh Kyai Wahab Hasbulloh (Rais Aam PBNU) dengan perumpamaan ” ikan yang hidup di air asin tetap tawar dagingnya “. Prinsip ini terpaksa ditempuh, walau dengan resiko dituduh berangkulan dengan PKI. Namun sejarah mencatat, sikap defensif NU banyak menyulitkan PKI dalam menyuarakan politiknya.

Saat arah perkembangan politik kala itu menunjukkan kekiri-kirian ditandai dengan munculnya fitnah “dewan jenderal” untuk mendiskreditkan TNI AD, disusul rentetan bentrokan fisik antara PKI dengan Ansor di beberapa daerah. Hubungan NU dan TNI kian erat, langkah taktis ditempuh untuk mengantisipasi terulangnya peristiwa 48.

Merespon gelagat tidak baik PKI, Mbah Mukti yang kala itu juga menjabat di pemerintahan daerah Kab. Ngawi, bertolak ke Jakarta untuk menyampaikan ” isyarat bathin ” para Kyai Jawa Timur (sebagaimana tertulis di ket. foto) tentang huru-hura yang bakal terjadi, apalagi situasi di wilayahnya saat itu cukup genting, terutama pasca meletusnya bentrokan fisik antara BTI dan pemuda Islam (gabungan Ansor dan Muhammadiyah), pada 1 mei 1965, sebagai puncak kekesalan pemuda Islam atas aksi sepihak PKI di tanah wakaf Gontor putri Mantingan.

Isyarat bathin hasil istikhoroh para Kyai NU Jawa Timur ini, setidaknya melengkapi keyakinan antara elit TNI AD dan NU, akan rencana perebutan kekuasaan oleh PKI. Dan benar saja, selang dua bulan kemudian, meletuslah peristiwa Gestapu atau G30SPKI, dimana Jend. A.H Nasution menjadi salah satu targetnya. Tapi Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah Swt, Jend. A.H Nasution berhasil lolos dari kekejaman tentara Gestapu. Apakah informasi penculikan ini juga salah satu ‘isyarat bathin’ yang disampaikan mbah Mukti kepada Pak Nasution ?. Wallahu ‘Alam[]

JAS MERAH (Jangan Lupa Sejarah)

Disarikan dari beberapa sumber :
Api Sejarah II, Prof. Mansur Suryanegara.
Pertumbuhan dan Perkembangan NU, Choirul Anam.
Catatan Riwayat K.H Abdul Mukti Ngawi.

Ed. Hasbi Arijal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.