Oleh: Hasan Al-Asy’ari/Peserta PKU Angkatan 14

Kembalinya Hagia Sophia Menjadi Masjid

Jum’at, 24 Juli 2020, Hagia Sophia pertama kali lagi digunakan untuk solat Jum’at sekaligus resmi kembali dibuka menjadi masjid[1] setelah pada tahun 1934 dijadikan museum oleh presiden Turki pada saat itu, yakni Mustafa Kemal Ataturk yang merupakan tokoh yang menyusupkan ideologi sekuler di negara Turki. [2] Hal ini akan menjadi sejarah yang akan diingat bukan hanya oleh kaum muslimin Turki tapi juga kaum muslimin di seluruh dunia.

Di sisi lain, banyak juga kecaman baik yang datangnya dari dalam maupun luar Turki atas kebijakan pengembalian Hagia Sophia ini menjadi masjid, terutama para kaum sekularis dan kaum Kristen Ortodoks. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan karena Hagia Sophia merupakan bangunan yang sangat penting dan bersejarah bagi baik umat Islam sendiri, umat Kristiani dan juga masyarakat global secara umum. Bahkan Hagia Sophia telah dimasukkan sebagai salah satu  situs warisan dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

Baca Juga: Al-Ghazzali dan Kritik Atas Inkonsistensi Para Filsuf: Pembacaan Awal Atas Tahafut al-Falasifah

Usaha Menumbangkan Sekulerisme

Pembukaan kembali bekas gereja Ortodoks tersebut tentu berkaitan erat dengan kondisi perpolitikan di Turki. Adalah Recep Tayyip Erdogan yang membawa konsep islamisme ke dalam perpolitikan di Turki mempunyai misi untuk mengembalikan Turki menjadi negara yang berbasis Islam, tidak lagi negara sekuler seperti yang dibentuk Mustafa Kemal Ataturk. Karena telah nampak bahwa dengan menjadi sekuler, Turki tidak menjadi maju seperti Barat sebagaimana yang diharapkan oleh pengusungnya Ataturk. Malah sebaliknya, menganut sekularisme telah membuat Turki menjadi merosot.[3]

Erdogan merupakan penerima estafet kedua dalam pemerintahan Turki yang mengusung konsep Islamisme. Pengusung pertamanya adalah Necmetin Erbakan yang merupakan gurunya sendiri. Jadi Erdogan melanjutkan perjuangan gurunya Erbakan.

Erbakan adalah tokoh gerakan Islam yang mengusung konsep Islamisme di negara Turki guna melawan sekularisme yang telah diterapkan oleh Ataturk. Erbakan diberikan gelar kehormatan sebagai “Seorang Pejuang Islam” atas perjuangannya yang gigih, tak mengenal lelah, sepanjang hidupnya untuk menegakkan cita-cita Islam di tengah-tengah kehidupan politik Turki yang sekuler. Ia membangun “Gerakan Islamis” di Turki, yang harus menghadapi kehidupan sekuler yang keras, dan kuatnya dominasi militer, yang menjadi ‘garda depan’ sistem sekuler di negeri yang pernah menjadi kekhalifahan Islam itu. Ebrbakan sempat memenangkan pemilu pada tahun 1996 dan menjadi perdana menteri.[4] Tetapi, umur pemerintahannya hanya satu tahun, karena dibubarkan militer Turki yang tidak ingin Erbakan mengembangkan pandangan-pandangannya yang Islamis itu, kemudian menjadi sebuah kebijakan Turki.[5]

Dakwah dalam Ranah Politik

Ketika membicarakan sosok Erdogan, maka kita seperti melihat sosok pendakwah yang masuk ke dalam politik. Artinya, pemikiran dan aktivitasnya secara substansi dapat kita maknai sebagai gerakan dakwah di ranah politik. Apalagi jika dilihat bagaimana kentalnya orientasi politik Erdogan dengan ideologi Islam, yang disesuaikan dengan pandangan politik sekuler negara Turki.

Dalam pemerintahannya, Erdogan menggunakan politik profetik yang merupakan upaya perjuangan politik untuk mencapai sesuatu kehidupan yang lebih baik dengan berpedoman pada nilai-nilai kenabian dan nilai-nilai ajaran Islam. Hal ini didasarkan dari keyakinan Erdogan bahwa “Islam adalah Solusi”. Dengan menerapkan konsep Islamisme ini terbukti bahwa Erdogan mampu membuat Turki menjadi sebagai salah satu negara terkuat di Eropa.

Beberapa Kebijakan Politik Erdogan

Karena konsep Islamisme yang diusungnya, maka secara umum, kebijakan-kebijakan yang diambil bertujuan untuk menghidupkan kembali Islam di Turki. Merubah ‘wajah’ Turki dari sekuler menjadi kembali Islam. Beberapa kebijakan dalam negeri yang diambil adalah mengembalikan kebiasaan lama, yaitu pengajaran al-Qur’an dan hadits di sekolah-sekolah negeri di Turki yang sudah lama dihilangkan, dan kebebasan berhijab di kampus-kampus Turki, dan mewajibkan pendidikan agama Islam dari tingkat sekolah dasar dan menengah untuk 12 jenjang kelas yang sebelumnya hanya tersedia di sekolah menengah berbasis agama.

Sedangkan salah satu kebijakan luar negerinya yang cukup penting dan yang menunjukkan kepeduliannya dengan dunia Islam dapat dilihat dari keberpihakannya pada perjuangan umat Islam di Palestina. Erdogan secara aktif mengunjungi berbagai negara untuk melobi dalam rangka mendukung perjuangan Palestina. Keyakinan dan dukungan terhadap perjuangan Palestina ini telah dinyatakan olehnya beberapa kali termasuk tidak lama setelah mengonversi Hagia Sophia menjadi Masjid. “Kebangkitan Hagia Sophia adalah jejak kehendak umat Islam di seluruh dunia yang akan datang. Kebangkitan Hagia Sophia adalah kebangkitan api harapan umat Islam dan semua yang tertindas, terzalimi, teraniaya, serta yang dieksploitasi”, terang Erdogan melalui situs web Kepresidenan Turki.

Baca Juga: Problem Framework Orientalis dalam Pengkajian Filsafat Islam

Pelajaran-Pelajaran dari Turki

Berdasarkan hemat penulis, setidaknya ada tiga pelajaran yang dapat diambil dari Turki saat ini berdasarkan pemaparan di atas, yaitu:

  1. Menjadi sekuler atau meniru Barat tidak akan membuat Islam maju. Satu-satu caranya agar umat Islam bisa maju adalah kembali kepada ajaran agama Islam secara sempurna (kaaffah). Hal ini kita bisa lihat dari sosok Erdogan yang mempunyai keyakinan dan keberanian dalam membangun negara Turki yang berbasis ajaran Islam. Bahkan Erdogan meyakini bahwa Islam adalah solusi. Hal ini terbukti dengan semakin diperhitungkannya Turki setidaknya di kancah Eropa.
  2. Politik atau kekuasaan menjadi sebuah jalan yang cukup strategis dan signifikan untuk berdakwah. Karena melalui kekuasaan ini akan lebih banyak hal yang bisa kita atur dan ubah. Namun memang diperlukan cara pandang yang tepat, iman yang kuat dan kemampuan memimpin yang mumpuni. Jika tidak, akan sangat memungkinkan malah kita yang akan terbawa arus. Karena seperti yang kita ketahui bersama, bahwa dalam politik ada berbagai kepentingan yang diperjuangkan sehingga sangat membutuhkan kehati-hatian dan kejelian dalam mengelola dan menghadapinya.
  3. Kerja peradaban adalah kerja lintas generasi. Hal ini tercermin dari bagaimana Erbakan yang menjadi pengusung pertama Islamisme belum berhasil ‘mengislamkan’ kembali negara Turki yang telah sekuler, namun estafet perjuangan itu kemudian dilanjutkan oleh Erdogan yang merupakan murid Erbakan. Dari tangan Erdogan sudah mulai terlihat perubahan Turki dari negara sekuler menuju negara yang berbasis Islam.

[1] Informasi ini diambil dari https://dunia.tempo.co/read/1368582/begini-persiapan-turki-resmikan-hagia-sophia-jadi-masjid (diakses tanggal 29 Juli 2020)

[2] Ahmad Junaidi, Kebijakan Politik Recep Tayyip Erdogan dan Islamisme Turki Kontemporer, Jurnal Agama dan Hak Azasi Manusia, Vol.6, Nomor 1, November 2016, hlm. 143

[3] Ibid

[4] Ibid, hlm. 144

[5] Ibid, hlm. 145

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.