pku.unida.gontor.ac.id- Salah satu peserta PKU XIII UNIDA Gontor, Muhammad Kholid, menjadi pembicara dalam kajian mingguan CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies). Kegiatan dilaksanakan di Hall Hotel UNIDA pada tanggal 12/09/2019. Acara ini dihadiri oleh seluruh peserta PKU dan para anggota Junior Researchers.

Narasumber mengangkat tema “Bedah Disertasi Abdul Aziz “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital”. Tema diskusi ini memang sedang hangat setelah disertasi dosen IAIN Surakarta ini viral dan lulus dengan nilai memuaskan.

BACA JUGA: Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Soal Disertasi Seks Di Luar Nikah

Umat Islam kembali dihebohkan dengan sebuah ujian terbuka disertasi berjudul Konsep Milk al Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital di UIN Sunan Kalijaga, Rabu (28/8/2019). Seperti yang dimuat dalam laman berita jogjapolitan.haranjogja.com, Abdul Aziz selaku penulis disertasi ini menyimpulkan bahwa seks di luar nikah dalam batasan tertentu tak melanggar syari’at.

“Ada berbagai batasan atau larangan dalam hubungan seks nonmarital yaitu dengan yang memiliki hubungan darah, pesta seks, mempertontonkan kegiatan seks di depan umum, daan homoseksual,” kata Aziz. Dengan kata lain hubungan zina diluar nikah selama tidak ditampakkan di luar umum boleh dan tidak berdosa.

Tentu pendapat ini mengandung kesalahan yang sangat serius, dan bisa menyesatkan orang awam yang tidak paham akan istinbath hukum dan penafsiran al-Qur’an yang benar.” Ujar Kholid.

Pertama, metode penafsiran yang dilakukan oleh Muhamamd Syahrur adalah hermeneutika hukum dari aspek filologi dengan prinsip antisinonimitas. Metode hermenutika ini digunakan Barat untuk menafsirkan Bible. Sebuah metode yang menganggap bahwa teks suci muntaj tsaqafi (produk budaya) dan harus ditempatkan dalam ruang sejarah, artinya teks suci itu tidak boleh tetap, tapi harus terus berubah menyesuaikan zaman. Jadi tidak ada ayat-ayat qathi atau tsawabith, semua orang berhak menafsirkannya.

Menurut Kholid, metode ini tidak sesuai dengan metode penafsiran para ulama salaf. Para ulama telah menetapkan kaedah-kaedah penafsiran baik itu dengan metode tahlily, ijmaly, muqarin, maudhui, baik itu jenis tafsir bil ma’tsur atau birra’yi. Syarat menjadi mufassir juga ketat, harus sehat aqidah, terbebas dari hawa nafsu, menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an atau as-Sunnah, merujuk kepada para sahabat dan tabi’in, menguasai bahasa Arab dan ilmu tafsir serta cabang-cabangnya, dan pemahamahan yang mendalam (Mabahits fi ‘Ulumil Quran). Hal ini dalam rangka meneguhkan kemurnian al-Qur’an agar tidak sembarang orang bisa menafsirkan dengan hawa nafsunya.

BACA JUGA: Studi Kritis Konsep Sunnah Muhammad Syahrur

Kedua, Muhammad Syahrur menemukan 15 ayat al-Qur’an tentang Milk Al Yamin yang masih eksis hingga kini. Dia menyimpulkan bahwa dalam konteks modern, hal itu menjadi justifikasi keabsahaan memiliki partner seksual di luar nikah yang tidak bertujuan untuk membangun keluarga atau memiliki keturunan. Konsep tersebut saat ini biasa disebut menikah kontrak dan samen leven atau hidup bersama dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan.

Tentu penafsiran ini sangat kebablasan. Hal pertama dalam melakukan panfsiran harus juga merujuk ke ayat yang lainnya, di dalam ayat yang lain dengan jelas disebutkan keharaman melakukan hubungan seksual tanpa pernikahan seperti disebutkan dalam QS. Al-Isra’ : 32, an-Nuur : 2-3, al-Furqan : 68-69).” Ungkap salah satu peserta PKU ini.

Tambah Kholid bahwa hal kedua mengenai Milk Al-Yamin, meskipun ayatnya ada dalam al-Qur’an, tetapi karena illah keberadaan para budak di zaman sekarang tidak ada, tentu hukum-hukumnya yang berkaitan dengan budak untuk sementara tidak terpakai, tetapi bukan berarti hukum-hukum itu dihapus.

Unsur penafsiran Syahrur yang sangat problematis dan dikenal anti otoritas ulama salafus sholeh ini telah menyeret, membelokkan, dan menggiring teks ayat Al-Qur’an sesuai dengan cara pandanganya yang liberal- sebuah kesalahan metodologis yang secara figurative dinamakan putting the cart before the horse; bukan kuda menarik kereta, melainkan kereta menarik kuda.

Ketiga, Aziz mengatakan hubungan seksual marital nonmarital sejatinya merupakan hak asasi manusia dan seksualitas yang dilindungi oleh agama dan pemerintah. Ia berpendapat; “Jika ditarik dalam masa kini, Indonesia tidak terbuka soal permasalahan seksualitas dibandingkan dengan negara lainnya. Padahal dampaknya sama. Bagaimana penyaluran hasrat manusia sebelum menikah? Siapa yang mau mengatasai masalah ini? Indonesia tidak mau terbuka dan hanya mengkriminalisasi. Padahal Eropa ada pencatatan nikah, partnership, nikah mut’ah juga ada dan itu legal. Indonesia sudah, akhirnya semua disembunyikan. Malah lebih berbahaya,” kata Aziz. (news.harianjogja.com, Kamis, 29/8/2019).

Foto sesudah kajian

M. Kholid menanggapi hal tersebut bahwa Aziz ini seakan-akan ingin terlihat lebih lebih liberal dari Muhammad Syahrur. Ia berpendapat bahwa konsep Milk Al- Yamin Muhammad Syahrur sendiri problematis karena ada bias gender dalam hal pembatasan. Sehingga, kesimpulannya konsep Milk al-Yamin ini tidak hanya diterapkan bagi laki-laki, tapi juga bagi wanita yang sudah menikah.

BACA JUGA: Konsep Islam dan Iman Muhammad Syahrur; (Studi Kritis)

Dari pendapat di atas, sangat terlihat sekali bahwa worldview (cara pandangan) Aziz sangat sekuler-liberal, dia berpendapat bahwa bahwa hak asasi manusia itu bebas sebebas-bebasanya seperti yang terjadi di Barat. Padahal dalam worldview Islam, makna kebebasan menggunakan kalimat ikhtiar. Ikhtiar tidak sama dengan ide modern tentang kebebasan. Sebab akar kata ikhtiar adalah khair (baik), yang berarti “memilih yang terbaik”. Jadi jika seseorang tidak memilih sesuatu yang baik, pilihan itu bukanlah sebenar-benarnya pilihan, melainkan sebuah ketidak adilan (dzulm). Tutur M. Kholid.

Keempat, melalui disertasi ini, umat Islam harus lebih sadar lagi bahwa di kalangan sarjana muslim ada yang pemikirannya bermasalah. Katakanlah pihak kampus dan dosen-dosennya sudah berlepas diri dari tuduhan meluluskan disertasi ini. Tapi faktanya ada sarjana muslim, dosen hingga sekelas doktor professor, filter moral dan aqidahnnya juga bobol.

Kalau (terpaksa) mau dikomparasikan, masing lebih baik jika ada seseorang secara personal masih berzina, tapi tahu itu perbuatan salah, dibanding dia tidak berzina, tapi menganggap itu boleh. Lebih parah lagi, saat sebagai sarjana, tidak berzina, menganggap zina tidak apa-apa, lalu di ruang akademik dan ilmiah mengatakan hal tersebut. Ini menyebabkan statusnya bisa ‘keluar’ dari Islam, karena menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Wallahu a’lam.[]

Rep. Muhammad Kholid

Ed. Admin pku

One Thought on “Bedah Disertasi Abdul Aziz “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non-Marital””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.