Alfrisa Renuat/ Peserta PKU Angkatan 16

Menurut Ibn Khaldun kekuasaan dan politik suatu negara memiliki tujuan yang substansial, yaitu memiliki tanggung jawab untuk melindungi yang lemah, mendengar aspirasi masyarakat, merangkul semua pihak dan mengentaskan kemiskinan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Al-Farabi bahwa politik Islam harus diorientasikan bagi kesejahteraan umat (Muthhar, 2018) karena baik kekuasaan maupun politik memiliki kaitan yang erat dengan fitrah manusia yang condong pada kebaikan. Adapun dalam menjaga kekuasan sebuah negara Ibn khaldun mengemukakan bahwa tanpa ashabiyah negara akan berada dalam anacaman disintegrasi dan menuju kehancuran (Abdurrahman, 2001).

Ibn Khaldun juga dikenal sebagai sejarawan, sosiolog ahli politik dan ahli ekonomi, hal ini tidak terlepas dari pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis (Abdurrahman, 2001), serta pengalamannya yang terjun dalam berbagai intrik politik (Maarif, 1996) dan  kancah politik praktis seperti di Granda, Fez dan Afrika Selatan (Huda, 2008). Sehingga bisa dikatakan bahwa tulisan dan pemikiran Ibn Khaldun terlahir dari studinya yang mendalam serta pengamatan pada persoalan politik dan negara terhadap berbagai masyarakat yang akhirnya melahirkan konsep ashabiyah.

Konsep Ashabiyah Ibn Khaldun

Secarah etimologis ashabiyah berasal dari kata ashaba yang berarti mengikat. Secarah fungsional ashabiyah  merujuk pada ikatan sosial budaya yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan kelompok sosial. Ashabiyah juga dapat dipahami sebagai solidaritas sosial, dengan menekankan pada kesadaran, kepaduan dan persatuan kelompok (Abdurrahman, 2001). Lewat konsep ini, Ibnu Khaldun menganalisis persoalan politik yang merupakan kunci awal lahir dan terbentuknya sebuah negara. Apabila unsur ashabiyah suatu negara sudah melemah, maka negara tersebut akan berada dalam ancaman keruntuhan.

Baca Juga : Kompetensi Kepribadian Guru Sebagai Wujud Ruh Mudarris – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Ibn Khaldun mengingatkan, bangsa yang tidak mengokohkan identitasnya tidak bisa maju sehingga sebuah negara harus mencari dan memperkuat identitasnya sendiri dan jangan sekedar menyerap kebudayaan impor. Berbeda dengan Nicollo Machiavelli didalam bukunya II Principe mengatakan bahwa agama tidak sepenuhnya memberikan nilai yang absah dan justru menjadikan agama hanya sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan (Machiavelli, 2016), Ibn Khaldun justru menyatakan dalam konsep ashabiyah, agama memiliki peran penting yang mengandung kesadaran akan visi, tujuan, cita-cita yang sama serta kesamaan nasib sangat penentukan keberlangsungan hidup suatu negara.

Ashabiyah memiliki peran penting yakni sebagai penggerak negara dan merupakan landasan tegaknya suatu negara. Ashabiyah  juga memiliki peran besar dalam perluasan negara setelah sebelumnya telah menjadi landasan tegaknya sebuah negara dan mempertahankan kekuasaan negara. Sehingga apabila ashabiyah ini kuat , maka negara pun akan luas begitu juga sebaliknya apabila ashabiyah ini melemah maka negara akan menjadi terbatas..

Pembentukan Negara Ideal

Menurut Ibn Khaldun Negara merupakan suatu makhluk hidup yang lahir, menjadi tua dan akhirnya hancur. Ia berpendapat bahwa umur suatu negara adalah tugas generasi yakni sekitar 120 tahun yang dibagi menjadi tiga generasi yang masing-masing dari setiap satu generasi berumur 40 tahun. Generasi pertama, yaitu mereka yang hidup dalam keadaan primitif yang keras dan jauh  dari kemewaahan. Generasi kedua yakni mereka yang sudah berhasil meraih kekuasaan dan mendirikan negara. Sedangkan generasi ketiga yaitu negara mengalami kehancuran karena tenggelam dalam kemewahan, ketakutan dan kehilangan makna kehormatan.

Baca Juga : Pendidikan Berbasis Akhlak Dalam Upaya Mengatasi Kerusakan Westernisasi Terhadap Umat Islam – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Dalam bukunya Muqoddimah, Ibn Khaldun menjelaskan bahwa ada lima tahapan pembentukan sebuah negara. Pertama, Pendirian negara. Ini merupakan tahapan mencapai tujuan, penaklukan dan merebut kekuasaan. Dalam tahapan ini, menurutnya negara tidak akan tegak tanpa adanya ashabiyah, karena justru ashabiya yang membuat orang menyatu pada tujuan yang sama, mempertahankan diri dan mengalahkan musuh. Kedua, pemusatan kekuasaan, pada tahapan ini pemegang kekuasaan melihat bahwa kekuasaan telah mapan, maka ia akan merubah ashabiyah, memonopoli kekuasaan dan menjatuhkan anggota-anggota ashabiyah  dari roda pemerintahan.

Ketiga, tahap kekosongan, yakni tahap menikmati sebuah kekuasaan seiring dengan watak manusia, seperti mengumpulkan kekayaan, mengabadikan peninggala-peningalan dan meraih kemegahan. Keempat, tahap ketundukan dan kemalasan. Pada keadaan ini negara ada dalam keadaan statis, tidak ada perubahan. Kelima, tahap foya-foya, dimana negara memasuki keadaan yang kronis dan menuju kehancuran. (Abdurrahman, 2001). Maka dari kelima proses tersebut dapat disimpulkan bahwa negara yang memiliki konsep Ashabiyah dengan menjadikan agama sebagai asas untuk mencapai persatuan maka akan menciptakan  sebuah negara yang ideal.

Gagasan Ibn Khaldun tentang negara ini, dikajinya melalui pendekatan sosiologis yang digambaran dengan sifat alamiah manusia yang senantiasa hidup berkelompok, saling menggantungkan diri, dan tidak mampun hidup tanpa bantuan orang lain (Huda, 2008). Sehingga dari konsep ashabiyah akan terbentuk sebuah komunitas kecil yang memiliki ikatan yang kuat lewat persaudaraan, tujuan, cita-cita dan keadaan yang sama dan akan menjadi seuatu kelompok manusia yang paling besar.

Kesimpulan

Dalam pemikiran Ibnu Khaldun tentang politik dan  negara, konsep ashabiyah memiliki pengaruh yang sangat besar untuk mencapai negara yang ideal. Berawal dengan membangun kekuatan, kemudian berlanjut pada tercapainya kemenangan, bahkan sampai dalam tahap menjaga stabilitas sosial negara tersebut. Namun ketika memudarnya ikatan ashabiyah akan berpotensi melemahkan ketahanan akan negara tersebut dari gempuran musuh maupun gejolak internal, serta perbuhan zaman yang semakin berkembang dengan berbagai pemikiran dan budaya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kunci utama dalam menjaga stabilitas dan keberlangsungan suatu negara terletak pada elemen bangsa, terutama peran pemimipinnya dalam menjaga kelangsungan ashabiyah tersebut. Dimana dalam konsep ashabiyah  agama memiliki peran yang sangat penting (Iqbal & Nasution, 2017).

 

Referensi :

Abdurrahman, A.-A. (2001). Mukaddimah Ibnu Khaldun. Pustaka Al-Kautsar.

Huda, N. (2008). Pemikiran Ibn Khladun Tentang Ashabiyah. SUHUF, 20.

Iqbal, M., & Nasution, A. H. (2017). Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer. KENCANA.

Maarif, A. S. (1996). Ibn Khaldun Dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur. Gema Insani.

Machiavelli, N. (2016). II Principe. Narasi.

Muthhar, Moh. A. (2018). The Ideal State. IRCiSoD.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.