Oleh: Inas Kamila/Peserta PKU angkatan 14

Pendahuluan

Ketika muslimin, baik kelompok awwam maupun elit[1], mendebatkan candu tidaknya filsafat yang menyebabkan penyepelean filsafat, orang-orang Eropa justru sejak lama mengajarkan dan memperbincangkan filsafat Islam. Oleh karena itu, adalah suatu keniscayaan bagi kaum muslimin untuk mempelajari filsafat Islam sebagai bagian dari perjalanan intelektual manusia dalam mencari kebaikan, kebenaran, dan keadilan.[2]

Pembahasan mengenai filsafat Islam hampir tidak pernah melupakan sanggahan fenomenal Al-Ghazzali dalam bukunya, Tahafut al-Falasifah. Filsafat paripatetik dengan nalar natural theology a la Aristoteles menyimpan beberapa proposisi yang, jika dilihat dari ‘kacamata’ ilmu kalam, dapat menjadi ancaman besar terhadap esensi wahyu dan dasar-dasar keimanan.[3] Salah satu proposisi itu adalah bahwa, “alam semesta bersifat kekal”. Atas dasar itu, Al-Ghazzali berkepentingan merumuskan sanggahan bagi para filsuf, sebagai bentuk penolakannya atas proposisi-proposi yang dianggapnya bermasalah.[4]

Baca juga: Problem Framework Orientalis dalam Pengkajian Filsafat Islam

Dalam tulisan ini, akan dipaparkan hasil pembacaan dan percobaan pemahaman dari seorang pembaca yang membaca buku ini untuk pertama kalinya. Dari tulisan ini, diharapkan timbul keinginan kuat untuk menelaah lebih jauh setiap diksi dan bangunan argumen Al-Ghazzali dalam sanggahan-sanggahannya di buku Tahafut al-Falasifah.

Self-Explanation yang Lengkap dari Dr. Sulaiman Dunya

Buku terjemahan ini memuat kata pengantar dari Dr. Sulaiman Dunya—seorang pakar pemikiran Al-Ghazzali sekaligus orang yang mentahqiq buku Tahafut. Beliau juga menulis cukup panjang mengenai biografi dan pemikiran Al-Ghazzali. Kedua bagian ini menghabiskan 42 halaman sebelum pendahuluan penulis dan daftar isi. Dari kedua tulisan beliau, pembaca pemula langsung mendapatkan informasi cukup banyak terkait kedudukan buku ini dalam peta pemikiran Al-Ghazzali maupun apa yang dikehendaki penulis terhadap buku dan pembacanya. Dengan demikian, buku terjemahan ini telah melakukan self-explanation sehingga hampir-hampir tidak lagi diperlukan resume tersendiri yang terpisah dari tubuh buku.

Al-Ghazzali memiliki keraguan yang besar dalam jiwanya sehingga memacu dirinya untuk mencari kebenaran sesuai dengan jalan pencari kebenaran. Pada ilmu kalam, Al-Ghazzali menemukan kerancuan maka berlanjutlah pencariannya kepada filsafat. Dalam fase keraguan dan pencariannya tentang filsafat inilah, buku Tahafut al-Falasifah ditulis sebagai sanggahan setiap argumentasi para filosof. Sementara itu, konstruksi filsafat yang ditawarkan Al-Ghazzali tertuang pada bukunya yang lain, Qawaidul ‘Aqaid.

Keraguan tentang sumber akal mengantarkan Al-Ghazzali melanjutkan pencarian pada tasawuf, hingga akhirnya tasawuf memberikan pencerahan dan kedamaian baginya. Sementara itu, tujuan penulisan buku ini, dari sudut pandang penulis adalah harapan untuk mendapatkan kedudukan yang terhormat. Dikatakan bahwa, berdasarkan tujuan ini, dalam sanggahan-sanggahannya, Al-Ghazzali meninggikan mazhab yang memungkinkan kedudukan terhormat ini diperolehnya.[5] Oleh karena itu, buku ini tidak merepresentasikan pemikiran Al-Ghazzali, mengingat belum finalnya pencarian kebenaran yang dijalaninya.

Sanggahan Terhadap Inkonsistensi Para Filosof

Kekaguman pada filosof-filosof besar adalah sumber kekafiran, dimana muncul sekelompok orang yang merasa dirinya terhormat, melecehkan syiar-syiar agama dan bahkan membuang agama lalu menggantinya dengan pengetahuan-pengetahuan praduga.[6] Permasalahan semakin rumit dengan penerjemahan istilah-istilah milik Plato dan Aristoteles ke dalam Bahasa Arab secara tidak tepat. Penulis mengerucutkan perhatian pada kesalahan Al-Farabi dan Ibnu Sina dalam dikotomi ruh manusia.

Baca juga: Analogi Keilmuan dalam Islam

Terdapat 20 persoalan yang diulas dalam buku ini. Secara garis besar, persoalan ini menyinggung kerancuan para filosof mengenai alam dan Tuhan, penciptaan, langit, dan jiwa manusia. Penulis melakukan sangahan dengan menghadirkan argumen-argumen filosof yang disanggahnya seakan terjadi dialog diantara Al-Ghazzali dengan para filsuf. Dalam argumentasi yang berbentuk dialog itu, Al-Ghazzali mempu membuktikan inkonsistensi para filosof dalam membuktikan konsep-konsep yang mereka klaim. Dengan demikian, telah nampak jelas kerancuan atau inkonsistensi para filosof yang tidak layak menjadi pijakan atau sandaran berpikir, bagi siapapun yang mencari kebenaran sesuai aqidah Islamiyah.

Catatan Penutup

Al-Ghazzali membagi peruntukan karyanya menjadi dua, karya yang terlarang kecuali bagi yang memenuhi syarat dan karya untuk konsumsi jumhur.[7] Buku ini termasuk buku kalam pada jenis kedua. Penulis mengajak kita untuk meninggalkan pembahasan tentang kualitas, kuantitas, dan esensi karena hal itu ada di luar kemampuan manusia.[8]Berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang Zat Allah.”, demikian sabda Nabi Sallallahu ‘alayhi wa sallam. Oleh karena itu, dalam mendalami filsafat Islam, sebagaimana dalamnya sanggahan penulis dalam buku ini, kita harus tetap membatasi keliaran pikiran. [YS]

 

 

 

[1] Masyarakat elit atau khawwash adalah mereka yang memiliki intelegensi tinggi, merdeka dari fanatisme dan taklid, serta meyakini dirinya memiliki ketajaman mata batin. Masyarakat awwam adalah kebanyakan mereka yang tidak memiliki ketiga hal tersebut. Al-Ghazzali, Tahafut al-Falasifah, Terj. Ahmad Maimun, (Bandung: Marja, 2010) hlm. 31; mengutip dari Al-Ghazzali, Al-Qisthas al-Mustaqim, hlm.86.

[2] Syamsuddin Arif, ‘Filsafat Islam antara Tradisi dan Kontroversi”, hlm.14.

[3] Ancaman itu utamanya akan berdampak pada para awam, sebab mereka tidak memiliki kesiapan intelektual, mental dan spiritual untuk menerima argumen-argumen para filsuf yang cenderung ekletik.

[4] Fazlur Rahman, “Islam: Sejarah Pemikiran dan Peradaban”, hlm. 178

[5] Sulayman Dunya menuliskan kutipan dari cerita Al-Ghazzali terkait hal ini, “Dan tidak ada dalam buku-buku ahli ilmu kalam-yang menyentuh pandangan para filosof dalam kepentingan memberikan bantahan terhadapnya- kecuali pernyataan-pernyataan rumit serta boros serta menampilkan kontradiksi dan absurditas. Orang awam saja diperkirakan tidak akan tertipu dengan pernyataan-pernyataannya. Apalagi orang yang mengklaim tahu terhadap detail-detail ilmu pengetahuan. Lalu saya menyadari bahwa menolak suatu mazhab sebelum memahami dan menelusuri inti ajarannya berarti menyerang secara membabi buta. Maka saya segera menyingsingkan lengan baju untuk melakukannya… dan seterusnya”, “Kemudian saya berpikir tentang niat saya dalam mengajar-artinya ketika hendak keluar Baghdad untuk menerapkan metode sufi pada dirinya-tetapi ternyata ia tidak murni karena Allah. Bahkan, ia didorong dan digerakkan oleh tuntutan terhadap kedudukan terhormat dan prestise. Maka saya yakin bahwa saya sedang berada di tepi jurang yang dalam dan sedang mendekati api andai saja tidak segera bersibuk diri untuk menghindar.”, dan pada kesempatan lain, “Saya tahu bahwa sekalipun saya kembali ke gelanggang penyebaran ilmu, namun saya tidak kembali (dalam pengertian sebenarnya). Karena, ‘kembali’ berarti mengulangi apa yang pada saat itu dilakukan sebelumnya. Dulu, pada saat itu-menunjuk pada saat berada di Baghdad ketika menulis buku Tahafut-saya menyebarkan ilmu pengetahuan yang dapat mendatangkan kedudukan terhormat. Dengan kata dan perbuatan, saya mengharapkan kedudukan terhormat itu. Itulah tujuan dan niat saya.”. Lihat Al-Ghazzali, Tahafut al-Falasifiah, hlm. 40-41.

[6] Yang dimaksud filosof-filosof besar itu adalah Socrates, Hippocrates, Plato, dan Aristoteles. Diikuti oleh penerimaan dari para penganut pemikiran tokoh-tokoh tersebut serta kesesatan dalam penjelasan tentang kapasitas intelektual. Mereka tidak memercayai agama dan mengingkari rincian ajaran dari aliran-aliran keagamaan, meyakini semuanya hanya tradisi yang tidak berdasar. Lihat Al-Ghazzali, Tahafut al-Falasifah, hlm. 46.

[7] Al-Ghazzali, Tahafut al-Falasifah, hlm.37.

[8] Al-Ghazzali, Tahafut al-Falasifah, hlm.133.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.